MATERIAL JALAN PERKERASAN KAKU

PERKERASAN KAKU adalah suatu konstruksi (perkerasan) dengan bahan baku agregat dan menggunakan semen sebagai bahan ikatnya.

Perkerasan kaku merupakan konstruksi perkerasan satu lapis (single layer), dimana :

  • Perkerasan kaku atau perkerasan beton semen portland umumnya terdiri dari pelat beton atau tulangan besi dan pondasi bawah (subbase), tapi lapisan permukaan aspal kadang-kadang ditambah pada saat pembangunan maupun sesudahnya.
  • Pelat Beton Mutu Tinggi; 
  • Subbase (Lean Concrete atau Batu Pecah) tidak berfungsi struktural
  • Bersifat kaku sehingga beban lalu lintas yang diterima dapat ditahan kurang lebih oleh seluruh luas tepi bawah lapis perkerasan kaku ini, untuk kemudian diteruskan ke tanah dasar (subgrade).
Struktur perkerasan kaku mempunyai Modulus Elastisitas (E) pelat beton yang sangat besar sehingga kemampuan penyebaran beban pelat beton jauh lebih besar dari pada perkerasan aspal. Tebal seluruh konstruksi perkerasan kaku jauh lebih tipis dari pada seluruh tebal perkerasan fleksibel. 

Mutu beton yang digunakan pada perkerasan beton ini harus memiliki kuat lentur karakteristik minimum, fs’ = 45 kg/cm2 atau setara dengan kuat tekan karakteristik minimum silinder, fc’ = 350 kg/cm2 (K-400).

Jenis dan Karakteristik Material Perkerasan Beton

Persyaratan Air
  1. Air yang dipergunakan haruslah bersih, dan bebas dari bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, basa, gula atau bahan organik lainnya.
  2. Air harus diuji sesuai dengan ketentuan dalam SNI 03-6817-2002 tentang Metode pengujian mutu air untuk digunakan dalam beton.
  3. Air yang diusulkan dapat digunakan apabila kuat tekan mortar dengan air tersebut pada umur 7 (tujuh) hari dan 28 (dua puluh delapan) hari mempunyai kuat tekan minimum 90% dari kuat tekan mortar.
Persyaratan Aggregate


Spesifikasi Umum 2018 Revisi 2
  1. Mempunyai ukuran yang lebih kecil dari ayakan ASTM 1 No.4 (4,75mm).
  2. Sekurang-kurangnya terdiri dari 50% (terhadap berat) pasir alam.
  3. Setiap fraksi agregat halus buatan harus terdiri dari batu pecah yang memenuhi Kuat Lentur Minimum dan haruslah bahan yang non-plastis jika diuji sesuai SNI 1966: 2008.
  4. Agregat kasar harus memenuhi AASHTO M80 dan Ketentuan Agregat dalam Spek Umum yang berlaku.
  5. slump flow (diameter rata-rata beton segar yang mengalir membentuk lingkaran dengan konus slimp terbalik) sesuai ASTM-C1611/C1611M-14.
Ketentuan Slump Flow

Spesifikasi Umum 2018 Revisi 2

Persyaratan Tulangan Baja
  1. Tulangan baja untuk jalur kendaraan harus berupa anyaman baja atau batang baja berulir sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar Rencana
  2. Baja tulangan harus merupakan batang baja polos atau berulir grade U24 atau batang berulir grade U40 sesuai dengan persyaratan SNl 0136-84, kecuali jika disetujui lain atau diperlihatkan lain dalam Gambar Rencana.
  3. Tulangan anyaman kawat baja harus memenuhi persyaratan-persyaratan AASHTO M 55. Tulangan ini harus disediakan dalam bentuk lembaran-lembaran datar dan merupakan jenis yang disetujui.
  4. Batang baja harus memenuhi persyaratan AASHTO M 54. Bagian-bagiannya harus berukuran dan berjarak antara sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar Rencana.
  5. Batang baja untuk Ruji (Dowel) harus berupa batang bulat biasa sesuai dengan AASHTO M 31.
  6. Batang dowel berlapis plastik yang memenuhi AASHTO M 254 dapat digunakan.
  7. Batang pengikat (Tie bar) harus berupa batang baja berulir sesuai dengan AASHTO M 31.

Comments

Popular posts from this blog

Menghitung CBR Lapangan Menggunakan Dynamic Cone Penetrometer (DCP)

CARA MEMBUAT PROJECT DI LDD

Cara Import Data Ukur Ke LDD